Kamis, 08 Desember 2011

Bayi Pun Memahami Lingkungan Sekitarnya

Bayi memiliki daya tangkap terhadap berbagai rangsang yang luar biasa. Bahkan ketika usianya masih 0 – 3 bulan … Wah, kalau begitu hati-hati memberinya contoh dan berkata-kata!

Membuka kontak: “Bunda Sayang!”. Sejak hari pertama pancaindera bayi bak “radar”. Kilatan cahaya blitz, gelak tawa gembira orang-orang yang menanti kehadirannya dan senandung merdu sang bunda, “tertangkap” semua, meski dengan kadar “kejernihan” yang mungkin belum tajam.

“Bayi sangat ‘haus’ akan berbagai rangsang (rangsang suara, visual, rasa, sentuhan dan penciuman) dari luar dirinya, sebab dengan begitu bayi memperoleh “latihan”, terutama aspek kognitif dan memorinya,” tutur Dr. Michael Kavek, psikolog perkembangan pada Universitas Bonn, Jerman.

Jadi, siapa bilang bayi tak memahami sapaan lembut pertama yang diterimanya. Memang ia tak bisa menjawab atau membalas sapaan Anda tapi ia dapat menangkap rasa cinta yang Anda sampaikan melalui tatapan, usapan, dan pelukan. Dengan mata beningnya, bayi pun menyapa, “Halo Bunda sayang!”.

Proses tumbuh-kembang otak bayi di luar kandungan memang merupakan sebuah kesinambungan dari proses di masa hamil. Di usia bayi (0 – 2 tahun), jalinan sinaps yang “mengikat” sel-sel saraf otak menjadi semakin sempurna dan kokoh. Stimulasi berupa paparan beragam rangsang membangun otak menjadi sebuah struktur yang rumit. Ini adalah pertanda baik!

Sebaliknya semakin sedikit impuls rangsang yang diterima bayi, maka bagian-bagian otak yang digunakan semakin sedikit. Akibatnya perkembangan kognitif pun tidak sepesat jika banyak “dilatih” oleh rangsang. 

Semakin besar, semakin terampil. Memahami lingkungan sekitar dengan keseluruhan indera adalah “modal” belajar yang penting. Belajar dalam arti sesungguhnya! Apabila di usia 3 bulan perkembangan kemampuan menangkap rangsang si kecil berkembang dengan sangat pesat, maka di usia 4 bulan, bayi selain semakin matang, koordinasi fungsi inderanya juga semakin baik.

Sebagai contoh, kombinasi proses mendengar dan melihat si 4 – 5 bulan semakin baik. Pemahaman terhadap lingkungan sekitar juga semakin baik karenanya. Memasuki usia 5 – 6 bulan, ditambah lagi dengan kemampuan menangkap rangsang melalui kegiatan menggenggam dan meraba melalui indera perasa. Ini merupakan sebuah kemajuan penting yang mendukung perkembangan kemampuan berpikir secara abstrak.

Tentu saja kemajuan yang dialami bayi ini tak terjadi begitu saja. Harus ada upaya aktif dari orang tua untuk melatihnya, agar pancaindera tak hanya berkembang secara “tepat waktu”, melainkan juga optimal. Nah, yang bisa dilakukan oleh Anda adalah memfasilitasi dengan berbagai mainan dan kegiatan yang menarik.

Bagi bayi yang baru lahir, mainan gantung dengan beragam rupa dan warna serta alunan musik dengan aneka nada adalah sarana wajib untuk mendukung kemampuan si kecil memahami apa yang terjadi di sekelilingnya. Sejak hari pertamanya itu, hingga ia mulai menjejakkan kakinya, paparan beragam material juga sangat penting untuk indera peraba. Karpet lembut, alas main dari bahan sintetik non-toxic atau soft toys dari bahan dengan beragam tekstur menjadi alat belajar yang sangat penting.

“Biarkan bayi Anda terpapar bahan lembut, material dari wol yang berbulu, bahan kulit yang kasar atau kayu yang masif tapi licin secara bergantian,” demikian saran Dr. Kavek. Tentu tak hanya itu, banyak berbicara pada anak, menyanyikan lagu, membawa si kecil melihat pemandangan alam dan terpapar beragam situasi, baik keramaian dan kesunyian, juga perlu.

Banyak orang tua “tak berani” memberi latihan berupa beragam rangsang kepada bayi karena khawatir bayi kelewat lelah akibat overstimulated. Padahal, “Bayi akan memberikan reaksi atau tanda apabila ia terlalu banyak menerima rangsang. Reaksi menolak bisa berupa tangisan atau sikap tak antusias dan menepis benda yang menjadi sumber rangsang adalah bahasa isyarat bahwa ia perlu rehat sejenak,” jelasnya lagi.   

Cermat tak berarti khawatir. Sebagian besar orang tua selalu berpatokan pada chart tumbuh-kembang yang kini banyak ditemukan di berbagai situs, buku perkembangan atau majalah. Seperti juga yang terurai dalam boks “Tahapan Perkembangan Kognitif dan Pemahaman Si Kecil”, biasanyamilestone mengacu pada tumbuh-kembang secara umum.
Namun, tak perlu terkejut atau heran, apabila yang terjadi pada bayi Anda tidak sesuai dengan tahapan perkembangan yang dicapai rata-rata anak seusianya. Apakah ia lebih cepat atau sedikit lebih lambat. Sebab, setiap anak itu unik, sehingga hampir tak ada anak yang persis sama ciri khasnya, termasuk ritme perkembangannya. Tentu saja, batas Anda harus waspada adalah apabila  perbedaannya sangat ekstrim. Misalnya, apabila bayi nampaknya tak terpengaruh oleh rangsang dari lingkungan sekitarnya sama sekali atau respon yang diberikan sangat terbatas atau sangat lambat.

Hanya saja, karena pancaindera meliputi beberapa organ, apabila ada yang “mencurigakan”, Anda harus mencermati dengan seksama, di mana kira-kira sumber masalahnya. Bisa jadi terhambatnya kerja “radar” bayi bukan akibat masalah pada tumbuh-kembang organnya, melainkan kurang “latihan”, kurang stimulasi.

Untuk itu, membawa bayi kepada ahli tumbuh-kembang anak, terutama dokter spesialis anak untuk pemeriksaan secara rutin sangat penting. Dan, hal-hal yang Anda curigai dapat ditanyakan dan didiskusikan dengan sang ahli. Sebab, masalah apa pun yang menyebabkannya, penanganan secara dini sangat menguntungkan. 

www.ayahbunda.co.id
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...