Rabu, 16 Maret 2011

Ketuban si Pelindung Janin

Air Ketuban melindungi bayi selama 9 bulan

Air ketuban tak bisa dipisahkan dari kehidupan janin. Sepanjang kehamilan, air ketuban memberikan banyak manfaat untuk janin. Tugasnya sangatlah luar biasa. Untuk itu, bagi ibu hamil tak ada salahnya mengenal lebih jauh tentang air ketuban.

Air ketuban adalah cairan yang ada di dalam selaput ketuban. Selaput ketuban adalah suatu kantong yang membungkus janin. Air ketuban terdiri dari 98% airdan sisanya garam anorganik serta bahan organik. Air ketuban dihasilkan dalam selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion.



Air ketuban hampir tidak berwarna, terlihat jernih dan terkadang tampak sedikit keruh. Ketika warnanya berubah jadi hijau, kondisi ini patut diwaspadai, karena pertanda telah terjadi infeksi, atau malah si janin telah mengalami kekurangan oksigen (hipoksia). Segera konsultasikan kepada dokter.

Fungsi utama air ketuban adalah sebagai pelindung janin dari kemungkinan benturan yang diakibatkan oleh lingkungan dari luar rahim. Air ketuban berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrisi bagi janin untuk sementara. Adanya air ketuban memungkinkan janin bergerak lebih bebas dalam rahim, membantu sistem pencernaan janin, sistem otot dan tulang rangka, serta sistem pernafasan janin agar berkembang dengan baik. Air ketuban juga berfungsi sebagai inkubator yang sangat istimewa dalam menjaga kehangatan di sekitar janin. Selaput ketuban dengan air ketuban di dalamnya merupakan benteng janin dan rahim terhadap kemungkinan infeksi. Pada waktu persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim membuka. Saat kantong ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus membersihkan jalan lahir.

Manfaat lain air ketuban adalah mendeteksi kelainan yang dialami janin, khususnya yang berhubungan dengan kelainan kromosom, Caranya dengan mengambil cairan ketuban menggunakan alat yang dimasukkan melalui dinding rahim perut ibu. Cara pemeriksaan ini disebut amniosentesis.


Jumlah Terjaga

Jumlah air ketuban terus meningkat sampai sekitar 1.000ml pada usia kehamilan 33-34 minggu dan jumlah tersebut berkurang ketika janin telah siap lahir, menjadi sekitar 800ml. Jumlah air ketuban selalu terjaga karena adanya siklus yang berulang, yakni janin menelan ketuban kemudian mengeluarkan urine.

Keadaan air ketuban dapat dilihat dengan alat USG. Tepatnya dengan menggunakan parameter ICA (Indeks Cairan Amnion). Cairan ketuban dikatakan kurang bila volumenya lebih sedikit dari pada 500cc. Kekurangan cairan ketuban ini disebut oligohidramnion. Kekurangan air ketuban ini dapat disebabkan adanya kelainan kongenital, ketuban pecah dini, atau kehamilan lebih waktu. Yang tergolong kelainan kongenital antara lain adanya sumbatan pada saluran kencing bayi, tidak terbentuknya ginjal, penggunaan obat darah tinggi yang tidak terkontrol.

Ketuban pecah dini biasanya ditandai dengan cairan yang keluar secara berlebihan atau sedikit tapi terus menerus melalui vagina. Baunya agak anyir, warnanya jernih, dan tidak kental. Penyebabnya, infeksi vagina yang menyebabkan ketuban mengalami perobekan. Tanda lainnya adalah gerakan janin menyebabkan perut ibu terasa nyeri padahal biasanya tidak.

Ketika mengalami kondisi sepert yang telah disebutkan di atas, langkah yang harus dilakukan adalah segera memeriksakan diri ke dokter, yang akan menentukan apakah janin masih bisa tetap tinggal di dalam rahim atau harus dikeluarkan. Umumnya setelah ketuban pecah, dokter akan memantau kondisi ibu dan janin. Bila ditemukan air ketuban banyak dan jernih, berarti keadaan janin masih baik sehingga ibu hamil bisa terus mempertahankan kehamilannya. Sedangkan bila kehamilan dinyatakan kurang bula maka dokter akan melakukan pemeriksaan, apakah janin harus segera dilahirkan atau tidak. Umumnya bila sudah ada indikasi infeksi yang akan membahayakan keselamatan janin serta ibu maka harus segera dilakukan persalinan. Namun, bila kondisi janin dan ibu baik, keduanya dapat tetap menunggu hingga waktu yang tepat untuk persalinan. Selama itu ibu wajib beristirahat, dibantu dengan pemberian obat-obatan melalui infus agar tidak terjadi kontraksi.

Istirahat total atau bedrest gunanya mencegah air ketuban keluar dalam jumlah lebih banyak. Sementara itu, lapisan kantong yang sebelumnya terbuka pun diharapkan dapat menutup kembali.Cairan ketuban akan dibentuk kembali oleh selsel amnion, sehingga janin bisa tumbuh lebih matang lagi. Supaya volume cairan ketuban kembali normal, dokter umumnya menganjurkan ibu hamil untuk menjalani pola hidup sehat, terutama makan dengan asupan gizi yang seimbang. Namun, pendapat bahwa satu-satunya cara untuk memperbanyak cairan ketuban dengan memperbanyak porsi dan frekuensi minum adalah 'salah kaprah'.


Bila Berlebih

Air ketuban berlebih disebut polihidramnion. atau cukup disebut hidramnion saja. Volumenya bisa mencapai 3-5 liter yang umumnya terjadi setelah usia kehamilan mencapai 22 minggu atau sekitar 5 bulan. Penyebabnya, produksi air seni janin berlebihan atau ada kelainan pada janin yang menyebabkan cairan ketuban menumpuk, yaitu hidrosefalus, atresia saluran cerna, kelainan ginjal dan saluran kencing. Selain itu dapat disebabkan adanya sumbatan/penyempitan saluran cerna pada janin sehingga ia tak bisa menelan air ketuban. Alhasil, volume air ketuban meningkat drastis.

Air ketuban yang berlebih berdampak buruk.Pada kasus hidramnion ekstrem, pembesaran perut ibu biasanya begitu berlebihan sehingga dinding perut menjadi sedemikian tipis. Bahkan pembuluh darah dibawah kulit pun terlihat jelas. Lapisan kulit bisa pecah, sehingga tampak guratan-guratan nyata pada permukaan perut. Kalau diukur, pertambahan lingkaran perut terlihat begitu cepat. Begitu juga tinggi rahim.

Air ketuban yang belebihan menyebabkan peregangan rahim, selain menekan diagfragma ibu. Itu semua akan menimbulkan keluhan-keluhan serupa dengan kehamilan kembar, di antaranya sesak napas/gangguan pernapasan yang berat, pertambahan berat badan berlebih dan bengkak di sekujur tubuh. Keluhan-keluhan tersebut ujung-ujungnya akan memicu terjadinya hipertensi dalam kehamilan yang mungkin harus diakhiri dengan persalinan prematur.

Disamping itu, letak janin umumnya jadi tidak normal. Dengan alat pemeriksa, suara denyut jantung janin terdengar jauh karena letaknya jadi lebih jauh dari permukaan. Melalui USG bisa mendapat diagnosis yang lebih pasti dengan cara mengukur ketinggian kantong air ketuban dan indeks cairan amnion. Alat ini sekaligus dapat mengetahui apakah ada kelainan bawaan pada janin dan gangguan pertumbuhan janin.

Cara yang biasanya ditempuh untuk mengurangi air ketuban yang berlebih adalah dengan menyedot atau mengeluarkan sebagian air ketuban melalui sebuah jarum khusus yang dimasukkan dari permukaan perut yang dengan amniosentesis. Cairan tersebut akan diperiksa sel-sel kromosomnya untuk ditelusuri apakah ada kelainan. Tindakan ini dapat dilakukan berulang kali sampai kehamilan cukup bulan. Tindakan ini juga dapat digunakan untuk mengurangi rasa sesak pada ibu yang kadang tak tertahankan.

Peregangan atau tekanan yang begitu kuat pada dinding rahim dapat memicu terjadinya kontraksi sebelum waktunya. Namun, dokter tentu akan mengupayakan agar tidak terjadi persalinan prematur dengan cara memberikan obat peredam kontraksi.

Air ketuban yang berlebih juga bisa meningkatkan risiko komplikasi persalinan, yaitu pendarahan pascapersalinan. Hidramnion juga amat memungkinkan terjadinya komplikasi plasenta terlepas dari tempat perlekatannya. Belum lagi risiko terjadinya kematian janin dalam kandungan. Yang jelas, kemungkinan ibu menjalani bedah sesar jauh lebih tinggi dibandingkan kehamilan biasa mengingat letak janin yang tidak normal dan menurunnya tingkat kesejahteraan janin.

Sumber : Tabloid Nakita
              No. 623/TH.XII/7-13 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...